Khutbah Jumat di Korem 073/Makutarama : “Toleransi Dalam Pandangan Islamâ€
Salatiga – Prajurit, PNS Korem 073/Makutarama dan warga sekitar Makorem melaksanakan ibadah sholat Jumat berjama’ah, di Masjid At Taqwa Korem. Jumat. (08/09/2023).
Khotbah Jumat yang dipimpin oleh Gus M. Taufik Zam-Zami., S.H.I., M.A. dari UIN Salatiga dengan mengusung tema “Toleransi Dalam Pandangan Islam”.
Diawal khutbahnya, Khatib mengajak para Jama’ah Jum’at untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan segala perintahnya dan menjahui segala larangannya.
“Karena hanya dengan Iman dan Taqwalah kita dapat meraih kebahagiaan di dunia sampai akhirat kelak,”ucap Taufik Zam-Zami melalaui khutbanya.
Bagi seorang muslim toleransi merupakan sikap yang mulia, karena pada dasarnya sikap toleransi merupakan wujud dari nilai-nilai keislaman yaitu saling menghormati dan menghargai perbedaan, baik antar individu maupun kelompok.
“Apabila warga negara Indonesia yang mayoritas muslim tidak memiliki sikap toleransi yang tinggi, maka akan ada konflik dan perpecahan antar sesama anak bangsa,”terangnya.
Dalam agama Islam, toleransi diibaratkan baju yang dapat dilipat dan dibawa kemana-mana, sedangkan agama Islam diibaratkan sebagai lemari yang tidak dapat dilipat dan dibawa kemana-mana secara sembarangan.
Semua sisi agama dicintai oleh Allah SWT, tetapi sifat toleran dan memberikan kemudahan terhadap orang lain lebih dicintai oleh Allah SWT.
Adapun cara seorang muslim dalam menjunjung tinggi nilai toleransi, diantaranya, Pertama, saling menghormati antar agama dengan tidak mengganggu orang lain yang sedang beribadah sesuai agama dan keyakinannya.
Kedua, tidak berkata buruk, mengejek, dan menghina orang lain baik yang sama suku dan agamanya ataupun berbeda.
Ketiga, saling menghargai antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpin dengan tidak sewenang-wenang memperlakukan orang lain.
“Dengan cara tersebut, Insya Allah toleransi tidak hanya akan menjadi ucapan, tetapi toleransi akan menjadi tindakan nyata yang dilakukan oleh seorang muslim,”kata Taufik Zam-Zami di akhir khutbahnya.
(Penrem 073/Makutarama)


